Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Filsafat Modern (Episode 2)

 

Pemikiran Ala Descartes

Descartes pada waktu itu mempunyai pemikiran yang amat terkenal di zamannya, yaitu di antaranya Rasionalistik, menolak petunjuk hidup tradisional, manusia itu istimewa, empirisme, kemunculan David Hume, dan kausalitas itu psikologis

 

1.      Rasionalistik

Rasionalistik ala Descartes merupakan Filsafat yang fokus pada daya nalar dalam mengelolah pengetahuan, descartes sendiripun dalam hal itu berusaha untuk membangun suatu sistem yang terkenal yaitu filsafat yang sepenuhnya baru, dan tidak lagi bergantung atau didasarkan pada filsafat yunani. Descartes sendiripun memisahkan diri dengan pemikiran filsuf yunani karna keinginan dan dorongan yg menggebu gebu, descartes pun membuat filsafat yang sepenuhnya baru. Karena itulah, pencarian fondasi awal, bagi Descartes sangat penting. Kata Descartes sendiri Aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum), itu merupakan  fondasi untuk sistem filsafat rasional Descartes.

 

2.      Menolak petunjuk hidup tradisional

Descartes menolak petunjuk hidup tradisional(wisdom), baik yang bersumber dari agama, seni ataupun filsafat sebelumnya. Bagi Descartes, apa yang bisa menjadi jaminan kebenaran adalah reason (alasan) yang terolah. Reason lebih dari sekedar upaya mencapai kesimpulan berdasarkan sedikit bukti atau primis. Namun merupakan upaya pencarian berdasarkan fakultas kemanusiaan untuk mendapatkan hubungan yang dibutuhkan.

Bagi Descartes, fakultas inilah anugrah terbesar dari tuhan yang harusnya digunakan untuk menemukan kebenaran yang tidak bisa diragukan seperti Matematika, pikiran lah yang menuntun manusia pada tuhan, bukan gereja, bukan masjid, bukan vihara atau ceramah agama.

 
3.      Manusia itu istinewa

Manusia istimewa karena memiliki esensi rasional yang sempurna. Ia bisa berjarak dengan apa yang ada disekitarnya. Ia bebas dan merdeka untuk memilih, bertindak, yang dengan itu ia bisa menghindar dari kehidupan moral. Ia bisa mencari kebenaran semesta. Descartes dalam hal ini sangat percaya pada ucapan Galileo bahwa : buku semesta ditulis dalambahasa Matematika.

    Namun demikian, pada beberapa dekade selanjutnya para pengikut Descartes mulai dihantui oleh kemunculan pemikiran Bacon, Hobbes, dan Locke atau kalangan penganut empirisme secara umum.

 
4.      Empiris (penalaman)

Ide dasar kalangan empiris adalah bahwa pikiran itu harus dilengkapi dengan pengalaman jika ia ingin menjadi pengetahuanyang teruji. Jika kalangan rasional percaya bahwa pikiran saja cukup untuk pengetahuan, karena ada beberapa ide yang memang sudah dibawa sejak lahir (apriori), maka kalangan empiris justru menolak hal tersebut. Pengetahuan hanya bisa hadir setelah adanya pengalaman (aposterior). Namun demikian, beberapa filsuf empiris seperti Locke, dalam banyak hal tetap menganjurkan bahwa kita harus tetap mengikuti pikiran. Hal inilah tetap mengikuti pikiran. Hal inilah yang nanti ditentang oleh Hume.

 

5.      Kemunculan David Hume

Kemunculan David Hume bisa dikatakan telah membawa goncangan untuk fondasi filsafat modern yang dibangun o

leh Descartes. Hume menunjukan bahwa nalar (reason) tidak bisa menunjukan apakah hal-hal berikut benar adanya :

1)      Ada ”diri” yang ada terus-menerus dan menetap.

2)      Relasi kausal.

3)      Kebiasaan alam akan terus menerus berlanjut dimasa depan.

4)      Apakah ada objel mental.

5)      Apakah ada tindakan manusia secara moral benar atau salah

Sebab bagi Hume, hakikat kebinatangan kita lah yang memunculkan hal-hal tersebut.

Tidak ada yang menjamin apakah diri kita yang kemarin sama dengan diri kita yang sekarang, atau esok hari. Bukti -bukti yang ada hanya menunjukan adanya perubahan kesan atau impresi, passions, gagasan, dan tidak ada yang benar benar permanen. Diri yang diyakini sama itu hanyalah perasaan saja, karena adanya asosiasi privat yang muncul ketika seseorang mengingat masa lalunya. Pikiran tidak bisa memutuskan. Hanya karena adanya konjungsi konstan saja, kita berasumsi bahwa alam akan bertindak seperti itu seterusnya. Alam sudah berubah dimasa lalu, maka apa yang menjamin bahwa ia tidak akan berubah dimasa depan.

 

6.      Kausalitas itu psikologi

Jika dua pristiwa terjadi dan tersambung dalam pengalaman, aku secara alamiah akan menghubungkan gagasan tentang dua peristiwa tersebut. Sehingga, ketika pristiwa pertama terjadi, aku akan berfikir peristiwa yang kedua akan mengikuti. Impresi kausalitas itu datang dari dalam diri, bukan dari luar diri


"tulisan ini merupakan catatan kecil ketika belajar di kuliahan , maaf jika ada pemahaman dan pemikiran yang kurang selaras karna bahasanya, bisa di coment ataupun di chat langsung"