Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Jelajah Hakikat Pemikiran Timur (Episode pembukaan)

MAJALAH DRIYARKARA

Upaya  mentradisikan sebeuah proses …?


 

Berawal munculnya Majalah Driyarkara yaitu dari sebuah  visi dasar yg mentradisikan pengolahaan pemikiran-pemikiran filsafat dan dialektika sosilisasi serta sering di bahas melalui tulisan atau karangan mahasiswa.

            Tradisi di kuliah Driyarkara yaitu mengolah pemikiran yg dilakukan lewat ujian tertulis diakhir semesternya. Namun agar bobot kuliah tidak berat diskusi pikiran ini tidaklah direduksi ke tingkat pencapaian SKS dan menghafal kuliah, maka oleh itu diadakanlah sekolah tulis menulis, agar tidak berat mengambil bobot pembelajaran atau SKS. Analisa kepustakaan biasanya menggali pemikiran para filsuf yang langsung belajar secara tatap muka atau pertemuan pemikiran “Barat” mereka yg mengeluarkan pemikiran baru dan problematika masyarakat budaya indonesia. Semua proses ini merupakan kelahiran karangan – karangan di Majalah Driyarkara yg sekarang berusia 20 tahun.

            Jika kita perhatikan diri dalam pigura yg di tulis di atas, pantas harus dicatat 3 butir mutiara motivasi dari “sekolah forum Majalah Driyarkara ini”

1.      Seluruh peroses jatuh bangun, jatuh bangun meanalogikan pemikiran Filsuf-Filsuf dengan aktualitas (betul-betul ada) dan problematika masyarakat budaya indonesia khususnya jakarta yg dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa aktif yg mengelolah pemikirannya dalam temu pikiran dengan para Filsuf, dan para Filsuf itu sendiri sudah menunjukan bahwa reduksi nilai nilai edukasi dari majalah ini.

Belum lagi meletakan dan membuat pertanyaan pertanyaan yang tepat dan kritis, karna itu sekolah tersendiri yg bisa anda lihat yaitu pergumulannya dalam karangan karangan “Capita Selecta”. Lantas apa yang akan terjadi dengan proses penulisannya? Apa yang terjadi juga tentang proses penalaran yang jernih (logika)? Apa yang terjadi dengan proses menalar tentang pokok permasalahan, tesis filsuf , tanggapan kritis mahasiswa sendiri (sebagai bahan “pemikiran muda”) lalu deduksi atau catatan akhir dia? Semua ini dapat kita baca dan cermati tulisan tulisan dalam serat serat mereka yang terhidang dan sudah dibuatkan lagi sistematisasi dan tematisasi oleh redaksi Majalah Driyarkara pada tahun 1993.

2.      Dalam arus globalisasi budaya yg terlalu cepat bergerak dari tradisi lisan hingga tradisi tertulis dan belum sempat mengendapkan “reading habit” (kebiasaan mengerkah pengetahuan dengan membaca tekun buku-buku hingga menjadi tulisan) dan sudah di terpa oleh tradisi lisan dari tahap kedua yang memasifkan (tidak aktif) pelaku karna media elektronik, tv semua menaruh pelaku dalam posisi “penerima pasif dari sajian sajian enak nikmat di mata” tanpa harus berfikir kritis, maka oleh itu arus ketekunan mengarang, ketekunan membaca buku-buku “tebal” filsafat dan menjadikannya dalam tulisan yang benar-benar sebuah proses sekolah pikir yang melawan arus budaya-budaya di atas tadi. Disanalah serat benang merah hasil kerja membatinkan “tradisi membaca cermat dan menulis / mengarang secara logis” itu merupakan sebuah pergulatan yang bukan main-main dalam melatih ketekunan intelektual, membaca, dan  disiplin ilmiah / ilmu.

3.      Sejarah membuktikan diri bahwasanya kemajuan sebuah bangsa terletak pada ada tidaknya ruang mereka berkontribusi dalam artian merdeka untuk dialog dialog intelektual / pemikiran dan dinamika dialektik pendapat. Apa artinya ? artinya yaitu merupakan tesis / pernyataan sebuah pendapat hanya akan menyempurnakan dalam bertemunya tesis itu dengan kritik kritik lain yg merupakan antitesis sehingga diproseslah sebuah sintesis. Ruang dialektika ini terbuka lebar di Majalah Driyarkara karna “check up” dari para pelajar peranannya hanyalah menjadi rekan dialog pikiran dalam dialektika tadi. Semua prosesnya yang tadi di garap oleh mahasiswa sendiri. Inilah butir-butir motivasi mutiara yang bisa diangkat dari deduksi tulisan prima Majalah Driyarkara dalam usianya yang 20 tahun ini

Maka oleh itu dalam membacanya, silahkan perhatikan dan maknai 3 butir di atas dalam pengelompokan tema yang masing masing tulisan sudah di ringkasi pokoknya secara padat.

Ada saatnya dimana kita terjadi pula kemarau kemarau atau musim kering tulisan dan pengolahan. Yang menarik dari musim kemarau ini biasanya bersamaan waktunya dengan suasana pemenjaraan proses intelektual / berfikir para angkatan atau generasi mahasiswa. Ada juga saatnya kita terjadi dalam suasana pemasungan kemerdekaan berfikir dalam model pendidikan cari nilai target SKS atau cara belajar menghafal yang dibawa dari SLTP dan SLTA dahulu hingga mengerikan kreativitas berfikir artian bebas berfikir dan berintelektual dan terkadang membuat malas berdialektik refleksi filsafat, di saat-saat itulah terjadi penurunan mutu tulisan dalam turunnya ketajaman analisa kritis pembacaan dan pengolahan.

            Maka, ketika endapan-endapan “sekolah” dengan visi dasarnya menanmkan kebiasaan berfikir jernih, membaca, mengulas, berdialog pikiran dengan para filsuf dan pemikirannya di coba gumpalkan menjadi “Capital Selecta” ini, oleh karena itu terbukalah pijar harapan kita pada sebuah kenyataan bahwa dinamika berfikir kritis dan rasional sebagai oasis filsafat dan mampu menjadi “nyala besar” asalkan ada medianya, ada sekolahnya, ada ruang pergulatan konseptual tetapi juga butuh media pencatat “sejarah proses dialektika itu” yaitu media tulisan.

 Buku yang berjudul Jelajah Hakikat Pemikiran Timur yang ada di tangan, ini adalah Buku pertama yang disuguhkan redaksi. Sedangkan karangan-karangan bertemakan epistimologis dapat kita temukan dalam buku kedua. Dan , kalau kita juga berminat mencicipi bagaimana masalah politik dan eksistesialnya seperti ajaran max Scheler, realitas sosial agama menurut Peter L. berger, dan refleksi Filosofis atas kematian dapat kita lihat dalam buku ketiga.

            Semoga dengan membacanya Artikel ini kita dapat berlanjut terus membaca dan semangat terus dalam mencari ilmunya, terimah kasih sudah membaca, mudah-mudahan manfaat wabillahitopi I’nayah…. Assalamu’alaiku WR WB

 

"Bacalah buku dalam 1 hari 50 lembar dan jadikanlah buku itu hitungan hidup sebagai hutang kehidupan ilmu" 

(Gusdur)