Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah, Kasih Dan Kuliah (episode perkenalan)

pexels.com/Yogendra Singh Follow

 "Siapa Aku dan Aku Siapa?."

(Imam Al-Ghozali)

Berawal dari sebelum masuk kuliah, aku duduk di bangku SMK Miftahul Huda Al-Husna dengan semangatku yang menggebu gebu, aku tak kenal lelah fokus dalam dunia pendidikanku, setelah aku fokus dalam pendidikanku Alhamdulillaah aku ranking 10 besar berturut turut, setelah aku lulus, aku bingung mau kemana aku harus melanjutkan pendidikanku dan Alhamdulillah berkat dorongan dan do'a orang tuaku, aku di posisikan oleh guruku sebagai Guru Bahasa English dalam artian aku mengabdi pada pesantren.

 Terlepas dari pengabdian sambil mengaji, aku mulai bingung kembali kemana aku harus menempuh pendidikanku, dan alhamdulillah berkat dorongan dan do'a guru dan orang tuaku. Aku melanjuti kuliah, Yang di suruh oleh ibuku, dan pada waktu itu ibuku menyuruh aku harus kuliah, dan aku makin bingung dengan suruhan ibuku, dan pada akhirnya aku bercerita pada guruku tercinta yaitu KH. Habib Muslim M.a dan kata guruku lebih baik pesantren terlebih dahulu karna melihat kondisi dan situasiku belum memungkinkan. Aku semakin bingung menggebu gebu, orang tuaku inginkan aku kuliah sedangkan guruku menyuruhku pesantren dan aku mengambil keputusan bahwasanya aku harus kuliah, karna melihat kondisi dan situasi ibuku masih mampu, pada akhirnya aku daftar kuliah dan aku bingung harus memilih jurusan apa, dan waktu itu aku lupa amanat dari guru bahwsanya hati hati memilih jurusan apalagi Filsafat, disana aku memilih pertama Sastra English kedua Pendidikan English dan ketiga aku bingung untuk memilih,  pada akhirnya aku memilih Filsafat yg di larang oleh guruku. Karna kebodohanku menggebu gebu hingga aku lupa amanat dari Guruku hingga aku menyelami dunia Filsafat.

 Taqdir melainkan bahwasanya aku harus bergulat di dunia Filsafatku, pada waktu itu aku daftar kuliah ketika waktu mengejarku dalam jangka satu minggu, aku tergesah gesah dalam memilih. dan aku terima taqdir itu dan aku jalani. Ketika aku mengingat pesan dari orang tuaku, sodaraku, dan guruku. Aku makin kuat keimanan dan aqidahku bahwasanya "hati hati dalam berfilsafat karna jika tidak berhati hati iman dan aqidah kita bisa runtuh." Dan aku memahami itu dan menyepelekannya karna atas ketidak percayaan terhadap guru dan orang tua, aku mengalami situasi seperti itu. awal aku mengalami situasi seperti itu aku hampir putus asa, karna tidak ada dorongan semangat kepadaku, dan aku mengidap depresi merenung sendiri karna banyak konflikasi konflikasi yang aku alami yaitu sosial dengan teman kelas, adab adabanku menghilang dan lain lain. Disana aku mulai ingin mundur dan bercerita kepada orang tuaku bahwasanya "aku menyesal memilih jurusan filsafat" dan orang tuaku berkata bahwasanya "yaudah mending pindah ke pesantren yg kemarin sambil kuliah yaitu Miftahul Huda Al-Husna " dan aku berfikir kembali bahwasanya jika aku kembali maka aku berada di zona nyaman, sedangkan aku tidak mau di zona nyaman dalam artian aku tidak mau dalam genggaman manja dari seorang ibu bukan berarti aku tidak menganggap seorang ibu. Akan tetapi aku ingin belajar dari kesalahanku dan memperbaiki diri dari kesalahanku. di sana aku berbicara dan musyawarah kepada ibuku bahwasanya "aku tidak akan kemabali kepesantren, toh aku tetap di kuliah aku mengaji di pesantren, lantas apa bedanya dengan disana" (kataku) dan ibuku alhamdulillah mengerti situasiku yg rumit itu.

 Dan aku melanjutkan untuk kuliah dan aku bereskan semua konflikasiku kepada orangtua, teman kelas, keluarga organisasi dan lain lain.Disana semangat juangku bangkit kembali karna tidak betahnya zona nyaman pada akhirnya aku balik ke pesantren UNIVERSAL dan aku meminta maaf dengan teman temanku, para asatid dan guru guruku. Takut aku mempunyai kesalahan yang tidak di sengaja. dan alhamdulillah selasai konflikasi di pesantren. Aku mulai turun di dunia teman kelas, dan disana aku mempunyai kebingungan yang amat pedas, dijauhkan dari teman dekat, di acuhkan dan lain lain menurutku itu ibaratnya daging hidup bergerak yg di acuhkan, rasanya sakit ketika orang lain tidak tahu kondisi dan situasiku sedang memburuk.

Maaf jika ada tulisan yang kurang selaras dalam hati, sejatinya aku menulis bukan berarti aku angkuh akan tetapi tulisanku merupakan curahan ilmu pengetahuan dan curhatanku di masa kuliah. Terimah kasih sudah berkunjung di Websiteku, mudah mudahan jadi amal jariyah bekal di akhirat, jangan lupa segala sesuatu harus dengan bismillah, karna di dalam ilmu Fiqih "jika kita tidak membaca bismillah sebelum melakukan amal baik maka ibarat kata hewan qurban yg cacat"

"janganlah kau putus asa dalam kebaikan, bangkitlah dan bawa perjuanganmu hingga akhir"

(Ibnu Adam Al-Alawi)